Sunday, November 30, 2008

Peri dan Hutan Berkabut

1 Comment(s)
Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat.

Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.

Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.

Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik.

Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal. Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu. Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para peri.

“Para peri tinggal di balik hutan berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop.

Sheila terkagum-kagum mendengarnya. “Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap. Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka. Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila dapat melihat dengan jelas.

Daerah berkabut penuh dengan berbagai tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira.

Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu menyenangkan sekali.

Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?” tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi. Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal itu. Ia amat marah.
“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.

Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.

sumber dari googling hehehe maaf buat yang bikin cerita saya repost disini
Smiley pointing to a sign that says: “Peace”

Sunday, November 23, 2008

Makanya Jujur, Dong !

0 Comment(s)
Uh...tiga hari lagi ulangan umum nih. Aku, Ranya, anak cewek paling ramai di kelas sedang bingung untuk mempersiapkan ulangan umum yang sudah semakin dekat. “Cepet banget sih,” keluhku. Padahal sebelumnya aku belum pernah mempersiapkan diri seperti belajar untuk menghadapi ulangan umum ini meski aku sudah tahu dari dulu. Dasar aku anak bandel, walau diingatkan berulang kali oleh bundaku tercinta aku hanya mengiyakan. Itupun hanya di mulut. Saat waktu belajar tiba alias jadwalnya habis magrib aku memang bilang mau belajar tapi ternyata aku malah asyik mendengarkan lagu-lagu MP3 kesukaanku di dalam kamar dengan pintu tertutup.

Memang benar kata pepatah yang berbunyi “PENYESALAN PASTI DI BELAKANG”. Sekarang waktuku untuk menyesali apa yang telah aku perbuat. Mau memperbaiki rasanya terlambat. Tiga hari lagi? Mau ngapain lagi. Akhirnya aku putuskan sebuah keputusan yang merupakan sebuah tantangan bagiku. Bagaimana tidak? Saat ulangan aku berpikir untuk membuat bonsai catatan. Sepertinya tidak ada ide lain walaupun yang satu ini amat sangat membahayakan sebenarnya. Sebelumnya, aku sudah memikirkan bagaimana kalau Bu Anti tahu apa yang aku lakukan. Bisa mati aku! Tapi aku mencoba untuk berani. Toh, aku sudah sering melihat teman-temanku begitu dan nyatanya mereka sukses besar. “Pokoknya hati-hati aja! Jangan sampai ketahuan!” kata teman sebangkuku yang memang sering membuat bonsai catatan. Bisa dibilang dia salah satu guru sesatku! Hehehe......”Udahlah berani aja!”pikirku.

Waktu terus berjalan. Tak terasa besok ulangan umum. Untung saja pada malam harinya aku sudah menyiapkan apa-apa yang aku butuhkan. Rencananya begini, aku menulis semua rangkuman pelajaran yang sudah diterangkan guruku pada secarik kertas. Lalu, aku sembunyikan di saku bajuku, di kolong meja yang gelap, di dalam kotak pensil tertutup, dan di balik penggaris. Kalau begitu aku pikir nggak bakalan ada yang mengetahuinya. Setelah menyiapkan segala sesuatunya, aku kecapekan. Tapi aku sempatkan diriku untuk tetap membuka buku walau sedikit. Apalagi besok Bahasa Indonesia, jadi aku hanya membaca cerita-ceritanya saja. Setelah lelah, aku tertidur.

Burung berkicau begitu indah. Seakan tidak tahu apa yang akan aku alami nanti. Ingin rasanya aku ikut burung itu. Terbang tinggi ke angkasa dan bebas nggak ikut ulangan. “Enak ya burung nggak sekolah,” pikirku macam-macam. Setelah melirik jam beker Hello Kitty hadiah ultah dari mama aku terkejut. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih sedikit. Wah, aku kesiangan nih! Maka dari itu, tanpa menunggu komando aku langsung melesat ke kamar mandi. Aku mandi secepat kilat, tapi bersih, lho! Jangan salah sangka dulu! Setelah itu, aku ganti baju dan turun ke lantai bawah. Ternyata ayah, ibu, dan kakakku telah siap di meja makan. “Bangunnya gak kepagian, Non?” sahut Kak Tari, kakakku yang paling manis dan paling cerewet.

“Huh...kakak nih selalu ngomentarin aku!” protesku.

“Yee...diingetin kok malah marah?” jawab kakakku tak mau kalah.

“Sudah...sudah! Ayo makan! Jangan bertengkar terus nanti terlambat lagi!” lerai ibuku dengan lembut.

“Ah, Mama!” jawabku. Setelah itu, aku cepat-cepat menghabiskan makananku. Untung saja tidak sampai tersedak. Padahal ibuku sudah mengingatkanku agar pelan-pelan tapi aku tetap takut terlambat.

Akhirnya habis juga makanan di piringku. Setelah minum beberapa teguk air, aku pamit ayah ibuku untuk berangkat sekolah. Kedua orang tuaku mengantarku sampai depan rumah. Kemudian, aku naik ke dalam mobil jemputanku.

Sesampainya di sekolah, aku melihat sudah banyak temanku yang datang. Saat kulihat ternyata banyak temanku yang juga membuat bonsai catatan sepertiku. Ada yang menulis di atas mejanya, menaruhnya di saku celana, bahkan ada yang ekstrem yang menulis rangkuman di pahanya lalu ditup rok atau celana. Melihat tingkah mereka aku tertawa dalam hati. “Dasar nggak siap! Makanya siapin mulai kemarin dong!” ejekku dalam hati. Entah mengapa, aku menjadi bangga karena aku membuat bonsai catatan sejak tadi malam. Mungkin karena ini pertama kalinya aku melakukannya. Sebenarnya aku tahu bahwa hal ini buruk. Namun, apa boleh buat? Aku belum siap apa-apa dari kemarin. Jadi terpaksa dan halal-halal saja buatku.
Waktu menunjukkan tepat pukul 07.00. Bel tanda masuk berbunyi. Bu Anti, wali kelasku masuk ke dalam kelas dan mulai membagikan lembar jawaban. Kemudian baru membagikan soal. Setelah bel tanda dimulainya mengerjakan. Aku dan kawan-kawanku mulai melaksanakan aksiku. Saat aku melihat soal saja sudah pusing tujuh keliling, apalagi mau nyoba ngerjain, tambah mual aku, begitu pikirku. Dan saatnya beraksi.

Ternyata Bu Anti malah berkeliling ruangan mengawasi siswa-siswa yang hendak menyontek. Lalu beliau duduk di kursi belakang yang kosong. Wah, gawat nih! Aku bisa ketahuan. Maka dari itu aku mengurungkan niatku untuk menyontek. Namun ada salah satu temanku yang memaksakan keadaan dan akibatnya Bu Anti memergokinya dan melarangnya untuk mengikuti ulangan umum. Waduh, aku nggak jadi nyontek dah! Takut! Bisa-bisa aku ngecewain bundaku lagi. Akhirnya aku mengurungkan niatku dan berusaha sebisanya. Untung saja aku masih membaca buku sedikit-sedikit. Jadi nggak sepenuhnya lembar jawabanku kosong. Apalagi soalnya pilihan ganda semua, jadi aku bisa menebak jawabannya.

Untuk hari-hari selanjutnya, aku berjanji akan belajar saja agar aku mendapatkan nilai seperti keinginanku. Selain itu aku nggak mau ngecewain kedua orang tuaku dan aku akan membuktikan kalau aku bisa jadi yang terbaik. Akhirnya, ulangan umum berakhir. Hasil ulangan dipampang di depan kelas. Ternyata nilai ulangan hasil aku belajar sendiri lebih baik daripada saat aku menyontek. Sejak saat itu, aku berjanji akan belajar giat agar aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Hehehe...ternyata enak juga jujur! Sekarang aku punya semboyan hidup “Jujur bikin mujur”. Makanya jujur, dong!
best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in