Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, December 07, 2008

Anak Kecil Yang Menunggu di Bawah Pohon Kersen

0 Comment(s)
Di bawah pohon kersen, Rana masih menunggu mama, sejak pulang sekolah sampai sore. Seragam putih merah masih melekat di tubuh mungilnya. matahari menyinari pelataran Bumi Allah dengan cahaya kuning. Bayangan kelam pohon kersen meneduhkan si kecil. Lalu-lalang kendaraan yang mengepulkan asap pekat bukan persoalan bagi Rana. Debu menderu terpingkal menerjang, bukan masalah baginya untuk tetap setia menunggu. sampai mama pulang… 

Hangat cuaca. Angin mendesir. Dedaunan kuning kering jatuh ibarat salju berguguran di musim dingin. Orang-orang berhamburan meramaikan pinggir jalan. Aroma parfum wangi-wangi beraneka. Ada karnaval di alun-alun kota yang terletak di seberang jalan. Sebentar lagi parade orang-orang dengan kostum warna-warni akan menyesakkan jalanan. Rana… sama sekali tidak tertarik dengan semua itu, padahal anak-anak seusianya ramai berduyun dituntun oleh orang tua mereka menyesaki alun-alun kota. Namun Rana masih setia menanti , sampai mama pulang.

Setiap hari. segala sesuatu terus berjalan sebagaimana biasanya. Rana menunggu mama, sampai jam menunjukkan pukul 16.00 atau lebih. kemudian sebuah angkutan umum berhenti di pinggir jalan di dekat pohon kersen. Disusul dengan keluarnya seorang ibu muda dari dalam angkutan umum. Mata teduh Rana menerjang lembut, ditumbuhi bulu mata lentik lebat. Sekulum senyum menyeruak dari bibir mungilnya, ketika mamanya menjulurkan tangan menantang Rana. Ia berlari tanpa pertimbangan, memburu tantangan mamanya. Wajah mamanya begitu sumringah, gurat cantik namun lelah begitu nyata terlukis kuat. Angin senja menggeraikan rambut panjangnya. stelan pakaiannya sederhana, kemeja putih lengan panjang kolaborasi dengan celana panjang hitam . Kulit wajah putih tersirami cahaya keemasan, menggurat senjakala dalam dirinya…

“Mama… datang….Mama datang….!” Teriak Rana memburu Rismala. Beberapa orang tersenyum menyaksikan adegan tersebut.

Rismala memeluk erat tubuh anaknya. rajutan kasih sayang yang begitu kokoh dari tangannya. Mengangkatnya. Menciumi pipinya.
” Mari kita pulang, sayang…”
” Rana mau menunggu papa dulu, Mama…” Ucapnya tulus dan agung.
Mata Rismala berkaca-kaca. Mungkin hatinya tersayat..
” Rana… Papa masih bekerja, sayang… Kita tunggu saja di rumah, yuk!”
Mata sayu anak kecil itu semakin teduh. Antara mengerti dan tidak…
Hingga Rismala memeluk Rana. memangkunya pergi. pulang.

##########################################################################

Malam hari.
Di luar rumah, cuaca cerah. Gemintang bertaburan di langit tegas tanpa awan. Rumah-rumah berwarna keperakan, bermandikan cahaya rembulan. Purnama menerjang. angin malam musim kemarau berhembus, memeluk setiap pohonan, kering dan dingin. Pemukiman penduduk semi kumuh tergambar jelas. Rumah-rumah sederhana gemebyar dengan cahaya lampu lima watt. Irama-irama dangdut, lagu-lagu putus cinta, harapan yang kandas, patah hati, remix, pop, dan rock larut dalam aroma bising, keluar dari rumah-rumah melalui jendela setengah tertutup. Para lelaki duduk tercenung di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi pahit. mengisap rokok kretek lintingan sendiri. Aroma tembakau murahan tercium meriah, menyengat apek. sering sekali bau tidak sedap tercium, berasal dari selokan sebelah Barat. Kemarau telah menyulap selokan menjadi ular berbisa yang menyimpan segala sesuatu di luar jangkauan nilai estetis. Ah… masa bodoh dengan semua itu. Lagu dangdut, dan hisapan rokok kretek murahan adalah nilai lebih bagi mereka. Malam harus diisi dengan suka cita meskipun siang hari mereka isi dengan keluhan dan jibaku melawan ganasnya gelora zaman.

Rismala selalu merasakan semua itu. Sejak pindah rumah ke tempat itu. Awalnya gerah, namun lama-lama juga menjadi terbiasa. Dia selalu tahu, tengah malam nanti sampai menjelang subuh, suara gitar berbaur dengan nada bariton para pemuda berdendang berkumandang. Disempurnakan dengan bunyi ember yang ditalu-talu sebagai pelengkap indahnya alunan musik murahan namun meriah.
Dia menatap wajah Rana yang tergolek di atas pembaringan. Wajah polos anaknya begitu berarti di mata Rismala. Bocah polos yang selalu setia menunggu kepulangannya. Didekatinya Rana. Ditarik selimut, menutupi sekujur tubuh anaknya. Diusap rambut ikal anaknya, lalu dikecup keningnya.

“ Lihatlah Ton!” Gumam Rismala. “ Anak kita sudah sebesar ini… Kamu ke mana saja Ton ?” Ada air mata menitik. Berat.

Rismala membuka-buka buku anaknya. Dalam pikirnya, Rana sangat cerdas. Nilai-nilainya pasti akan membuat beberapa teman se kelasnya iri kepadanya. Terutama di bidang pelajaran mengarang. Anaknya selalu menulis karangan, temanya itu-itu juga, tentang Papanya.. Kartu SPP diperiksa,” Sudah tiga bulan….” Ucapnya lirih. Beberapa surat tagihan dari pihak sekolah. Ia membacanya. “ Mama pasti berjuang demi masa depanmu Rana…”

Dalam benaknya timbul pikiran. Tidak cukup hanya mengandalkan bekerja di pabrik tekstil yang penguk dan kotor untuk mencipta masa depan anaknya. Gajinya kecil hanya lima ratus ribu rupiah perbulan, habis terkuras untuk bayar sewa kontrakan dan makan sehari-hari.
“ Aku harus kerja sampingan…”

##########################################################################

Pada diri Rismala tersimpan Ton. Seorang lelaki pengecut yang menjanjikan harapan namun nyatanya gombal dan getir. Segalanya kandas. Namun ia percaya, bahwa harapan masih terus bisa dicipta oleh siapa pun, kapan pun dan dimana pun. Orang akan senantiasa bisa membuat surga, kendatipun ia hanya seorang ibu muda lemah. Tidak selamanya setiap lelaki bisa menjelma menjadi manusia sejati. Justru keperkasaan yang sesungguhnya selalu tercipta dari diri seorang wanita…

“Sebaiknya dipikirkan dengan matang, Ris!” Kata ibu sambil menatap wajah Rismala ,” pernikahan beda keyakinan itu sangat riskan…” Lanjut ibu setengah bergumam. Raut wajahnya tirus dan murung jelas.

Bapak duduk melongo, menatap udara, jauh dan kosong. Baginya, keinginan anaknya teramat melampaui batas angan siapa pun..

“ Percayalah, Bu, Pak. Mas Ton itu orang baik…”

“ Kami sebagai orangtua, hanya mewanti-wanti saja, jangan sampai ada penyesalan pada akhirnya nanti, Ris.” Air mata mulai menggelayut di kelopak mata Ibu.

“ Rismala siap menanggung segala resikonya, Bu..”

Ibu memeluk erat Bapak, air matanya menguyur dada bapak, ketika bapak larut dalam dalam emosi yang hamper tak terkendali, kesal, marah, dan menyesal. Namun tidak dapat dikeluarkan.

Dan pada akhirnya, Rismala pergi bersama Ton, menikah di tempat yang jauh dari kedua orang tuannya. Rismala tahu, Ibu dan Bapak sering duduk melongoi sambil menatap jalan tak berujung setelah pernikahan dirinya dengan Ton. Air mata kerap bercucuran , keluar dari sudut mata Ibunya.
Tapi dia tidak mau menemui kedua orang tuanya. Rismala melupakan semuanya.

Sampai pada suatu ketika, satu sore di musim kemarau. Ketika debu-debu berterbangan dan dedaunan kering kerontang menggeliat di bawah terik mentari ia menjumpai sebuah surat atergeletak di atas meja. Ton, suaminya memberitakan pulang ke kampung halamannya, di daerah Timur, tanpa menceritakannya terlebih dahulu. Bagi Rismala, jelas keputusan itu adalah sebuah tikaman. Telak menusuk dadanya. Dia hanya bias mengepal kepedihan, tanpa mau bereaksi. Waktu itu usia Rana baru menginjak 4 bulan.

“ Ibu…” Bisik Rismala, “ Bapak…”

Namun dia tidak mau menemui kedua orangtuanya, mungkin malu…pada dirinya sendiri.
Rismala menyimpan satu lembar uang sepuluh ribu rupiah dan secarik kertas berisi pesan untuk Rana di atas meja. Ia bergegas meninggalkan rumah menuju tempat kerja. Wangi melati semerbak membelah udara dingin pagi di musim kemarau. Matahari juga belum menggeliat.
Sesaat setelah Rismala pergi. Anak kecil yang masih duduk di bangku SD kelas 3 keluar dari kamarnya. Menyibakkan tirai penutup pintu. Ia mencari-cari. Wajahnya lesu tapi ada binar bahagia, mungkin ia baru bermimpi bertemu dengan harapannya, dengan orang-orang yang selalu dirindukannya selama ini. Langkahnya masih menandakkan bahwa dirinya masih mengantuk, sempoyongan. “ Mama telah pergi…” Bisiknya.

Ia duduk mengambil secarik kertas di atas meja., kemudian di ejanya, satu-satu. : “ Mama tidak ingin mengecewakan masa depanmu, Rana. Mama akan kerja sampingan sampai malam. Rana tidak usah menunggu mama di bawah pohon kersen itu…”

Anak kecil itu telah menjadi orang dewasa sejati. Dalam dirinya telah tumbuh kemandirian alami. Mandi, ganti pakaian, berdandan, membeli nasi kuning di Warung Iyem untuk sarapan. Dilakukan sendiri. Orang-orang, bahkan seluruh isi dunia tahu akan hal ini..

##########################################################################

Tapi sepulang sekolah sampai sore, Rana tetap melakukannya juga. Ia begitu setia dan tulus menunggu kepulangan mamanya di bawah pohon kersen. Kesabaran terlukis dalam dirinya. Matanya memancarkan kilau keyakinan yang teguh bahwa suatu saat nanti orang-orang tercinta akan datang kepadanya.

Hal ini terus berlangsung sejak Rismala mendapatkan pekerjaan tambahan. Mereka menjadi jarang bertemu. Rismala hanya bisa menatap wajah Rana ketika anaknya telah tergolek di atas pembaringan. Ia tidak ingin membangunkannya, ia tidak ingin mengganggu mimpi indah anaknya. Namun.. cita-cita masih tetap menggurat di garis asa diri Rismala,” Dengan cara apa pun aku harus menciptakan masa depan anakku!” keyakinannya begitu kuat.

 ##########################################################################

Dioleskannya gincu di bibir tipisnya sebelum ia keluar rumah. Uang SPP, uang Buku, dan tetek-bengek keuangan lainnya diletakkan di atas meja, seperti biasanya. ia tidak bekerja di pabrik tekstil lagi. Tuan Probo telah menunggu di depan rumahnya. Mobil mercy hitam mengkilap padahal hari masih pagi dan alam masih terlelap dalam dingin. Rismala bergegas membuka pintu mobil, senyum hambar terkuak. Tuan Probo menyambut dengan seutas senyum penuh kemenangan.

##########################################################################

Rana masih setia menunggu kepulangan mamanya di bawah pohon kersen. Matanya berkaca-kaca sering melelehkan air mata yang menganak sungai di pipi mulusnya. Betapa di dalam dirinya ada harapan besar yang terus tercipta.

Hari hampir maghrib. Kepak kelelawar telah menggema. Lembayung menggurat di ufuk Barat. Rana masih mematung. Air matanya bening, semakin berlinang.

Seseorang mendekati anak itu. Digendongnya, sedangkan Rana memeluk erat pundaknya seakan telah menemukan harapannya yang ia cari selama ini. Mereka bergegas menuju ke rumah orangtua Rismala, tanpa banyak bicara. Orang itu akan membawa Rana untuk menemui kedua eyangnya, kakek dan neneknya yang masih terbaring dalam kepedihan. Tapi…air mata Rana menerjang punggung orang itu. Hangat dan basah. Sampai… air mata menitik di sudut matanya….

lupa sumbernya darimana. good job lah pokoknya buat yang bikin. maaf saya repost karena cerpennya saya suka :)

Sunday, November 30, 2008

Peri dan Hutan Berkabut

1 Comment(s)
Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat.

Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.

Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.

Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik.

Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal. Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu. Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para peri.

“Para peri tinggal di balik hutan berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop.

Sheila terkagum-kagum mendengarnya. “Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap. Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka. Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila dapat melihat dengan jelas.

Daerah berkabut penuh dengan berbagai tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira.

Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu menyenangkan sekali.

Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?” tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi. Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal itu. Ia amat marah.
“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.

Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.

sumber dari googling hehehe maaf buat yang bikin cerita saya repost disini
Smiley pointing to a sign that says: “Peace”

Sunday, November 23, 2008

Makanya Jujur, Dong !

0 Comment(s)
Uh...tiga hari lagi ulangan umum nih. Aku, Ranya, anak cewek paling ramai di kelas sedang bingung untuk mempersiapkan ulangan umum yang sudah semakin dekat. “Cepet banget sih,” keluhku. Padahal sebelumnya aku belum pernah mempersiapkan diri seperti belajar untuk menghadapi ulangan umum ini meski aku sudah tahu dari dulu. Dasar aku anak bandel, walau diingatkan berulang kali oleh bundaku tercinta aku hanya mengiyakan. Itupun hanya di mulut. Saat waktu belajar tiba alias jadwalnya habis magrib aku memang bilang mau belajar tapi ternyata aku malah asyik mendengarkan lagu-lagu MP3 kesukaanku di dalam kamar dengan pintu tertutup.

Memang benar kata pepatah yang berbunyi “PENYESALAN PASTI DI BELAKANG”. Sekarang waktuku untuk menyesali apa yang telah aku perbuat. Mau memperbaiki rasanya terlambat. Tiga hari lagi? Mau ngapain lagi. Akhirnya aku putuskan sebuah keputusan yang merupakan sebuah tantangan bagiku. Bagaimana tidak? Saat ulangan aku berpikir untuk membuat bonsai catatan. Sepertinya tidak ada ide lain walaupun yang satu ini amat sangat membahayakan sebenarnya. Sebelumnya, aku sudah memikirkan bagaimana kalau Bu Anti tahu apa yang aku lakukan. Bisa mati aku! Tapi aku mencoba untuk berani. Toh, aku sudah sering melihat teman-temanku begitu dan nyatanya mereka sukses besar. “Pokoknya hati-hati aja! Jangan sampai ketahuan!” kata teman sebangkuku yang memang sering membuat bonsai catatan. Bisa dibilang dia salah satu guru sesatku! Hehehe......”Udahlah berani aja!”pikirku.

Waktu terus berjalan. Tak terasa besok ulangan umum. Untung saja pada malam harinya aku sudah menyiapkan apa-apa yang aku butuhkan. Rencananya begini, aku menulis semua rangkuman pelajaran yang sudah diterangkan guruku pada secarik kertas. Lalu, aku sembunyikan di saku bajuku, di kolong meja yang gelap, di dalam kotak pensil tertutup, dan di balik penggaris. Kalau begitu aku pikir nggak bakalan ada yang mengetahuinya. Setelah menyiapkan segala sesuatunya, aku kecapekan. Tapi aku sempatkan diriku untuk tetap membuka buku walau sedikit. Apalagi besok Bahasa Indonesia, jadi aku hanya membaca cerita-ceritanya saja. Setelah lelah, aku tertidur.

Burung berkicau begitu indah. Seakan tidak tahu apa yang akan aku alami nanti. Ingin rasanya aku ikut burung itu. Terbang tinggi ke angkasa dan bebas nggak ikut ulangan. “Enak ya burung nggak sekolah,” pikirku macam-macam. Setelah melirik jam beker Hello Kitty hadiah ultah dari mama aku terkejut. Jam sudah menunjukkan pukul enam lebih sedikit. Wah, aku kesiangan nih! Maka dari itu, tanpa menunggu komando aku langsung melesat ke kamar mandi. Aku mandi secepat kilat, tapi bersih, lho! Jangan salah sangka dulu! Setelah itu, aku ganti baju dan turun ke lantai bawah. Ternyata ayah, ibu, dan kakakku telah siap di meja makan. “Bangunnya gak kepagian, Non?” sahut Kak Tari, kakakku yang paling manis dan paling cerewet.

“Huh...kakak nih selalu ngomentarin aku!” protesku.

“Yee...diingetin kok malah marah?” jawab kakakku tak mau kalah.

“Sudah...sudah! Ayo makan! Jangan bertengkar terus nanti terlambat lagi!” lerai ibuku dengan lembut.

“Ah, Mama!” jawabku. Setelah itu, aku cepat-cepat menghabiskan makananku. Untung saja tidak sampai tersedak. Padahal ibuku sudah mengingatkanku agar pelan-pelan tapi aku tetap takut terlambat.

Akhirnya habis juga makanan di piringku. Setelah minum beberapa teguk air, aku pamit ayah ibuku untuk berangkat sekolah. Kedua orang tuaku mengantarku sampai depan rumah. Kemudian, aku naik ke dalam mobil jemputanku.

Sesampainya di sekolah, aku melihat sudah banyak temanku yang datang. Saat kulihat ternyata banyak temanku yang juga membuat bonsai catatan sepertiku. Ada yang menulis di atas mejanya, menaruhnya di saku celana, bahkan ada yang ekstrem yang menulis rangkuman di pahanya lalu ditup rok atau celana. Melihat tingkah mereka aku tertawa dalam hati. “Dasar nggak siap! Makanya siapin mulai kemarin dong!” ejekku dalam hati. Entah mengapa, aku menjadi bangga karena aku membuat bonsai catatan sejak tadi malam. Mungkin karena ini pertama kalinya aku melakukannya. Sebenarnya aku tahu bahwa hal ini buruk. Namun, apa boleh buat? Aku belum siap apa-apa dari kemarin. Jadi terpaksa dan halal-halal saja buatku.
Waktu menunjukkan tepat pukul 07.00. Bel tanda masuk berbunyi. Bu Anti, wali kelasku masuk ke dalam kelas dan mulai membagikan lembar jawaban. Kemudian baru membagikan soal. Setelah bel tanda dimulainya mengerjakan. Aku dan kawan-kawanku mulai melaksanakan aksiku. Saat aku melihat soal saja sudah pusing tujuh keliling, apalagi mau nyoba ngerjain, tambah mual aku, begitu pikirku. Dan saatnya beraksi.

Ternyata Bu Anti malah berkeliling ruangan mengawasi siswa-siswa yang hendak menyontek. Lalu beliau duduk di kursi belakang yang kosong. Wah, gawat nih! Aku bisa ketahuan. Maka dari itu aku mengurungkan niatku untuk menyontek. Namun ada salah satu temanku yang memaksakan keadaan dan akibatnya Bu Anti memergokinya dan melarangnya untuk mengikuti ulangan umum. Waduh, aku nggak jadi nyontek dah! Takut! Bisa-bisa aku ngecewain bundaku lagi. Akhirnya aku mengurungkan niatku dan berusaha sebisanya. Untung saja aku masih membaca buku sedikit-sedikit. Jadi nggak sepenuhnya lembar jawabanku kosong. Apalagi soalnya pilihan ganda semua, jadi aku bisa menebak jawabannya.

Untuk hari-hari selanjutnya, aku berjanji akan belajar saja agar aku mendapatkan nilai seperti keinginanku. Selain itu aku nggak mau ngecewain kedua orang tuaku dan aku akan membuktikan kalau aku bisa jadi yang terbaik. Akhirnya, ulangan umum berakhir. Hasil ulangan dipampang di depan kelas. Ternyata nilai ulangan hasil aku belajar sendiri lebih baik daripada saat aku menyontek. Sejak saat itu, aku berjanji akan belajar giat agar aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Hehehe...ternyata enak juga jujur! Sekarang aku punya semboyan hidup “Jujur bikin mujur”. Makanya jujur, dong!

Akhirnya Ku Mengerti

0 Comment(s)
Hujan gerimis membasahi baju Nina yang sedari tadi memasang muka lusuh. Tampaknya ada sesuatu hal yang sedang ia pikirkan. Sedari tadi ia berdiam diri. Saat istirahat pun ia hanya berada di kelas. Tak seperti biasanya, Nina yang dijuluki burung beo oleh teman-temannya kini hanya bermuram durja. Sahabat Nina, Tika, sampai-sampai kebingungan melihat tingkah Nina hari ini. Ia malah mengira Nina marah kepadanya atas perbuatannya kemarin. Memang sih kemarin Tika dan Nina sempat beradu mulut gara-gara Tika mengingkari janji untuk bermain bersama Nina. Tapi memang kedua sahabat itu sama-sama keras kepala.

Saat pelajaran berlangsung, Bu Fisa yang sedari tadi berjual jamu di depan kelas, tak ada satu kata pun yang terekam dalam pikiran Nina. Ya, seperti masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Cuman transit aja gitu! Jangankan terekam, menempel sedikit aja nggak tuh. Padahal, Bu Fisa merupakan guru killer di sekolahnya. Semua temannya tak ada yang berani membantah Bu Fisa ini. Tika, yang sedari tadi memperhatikannya, sempat terheran-heran melihat keberanian Nina untuk tidak memperhatikan Bu Fisa.

Hingga pelajaran guru killer tersebut berakhir, saat semua teman-temannya bernafas lega, Nina terus saja bermuram durja. Karena terlalu lama tidak saling bicara, Tika akhirnya memberanikan diri untuk menegur Nina. “Nin, kamu masih marah ya sama aku? Maafin aku, ya, Nin! Aku ingin kita bersahabat lagi,” ucap Tika, “Nin, kenapa kamu diam aja dari tadi? Jawab,dong, Nin!”

“Nggak kok! Aku nggak apa-apa, aku udah nggak marah sama kamu. Aku masih mau sahabatan sama kamu,” sahut Nina masih dengan lesu.

“Bener nih kamu nggak apa-apa? Kok dari tadi aku perhatiin kamu diem aja nggak seperti biasanya. Aku lebih senang Nina yang dulu. Ada apa sih? Mungkin aku bisa bantu nyelesaiin masalahmu.”

“Sebenernya aku lagi bingung,” ucap Nina.

“Bingung kenapa?” sahut Tika.

“Ehm..........nanti aja deh aku ceritanya di rumahmu. Bolehkan aku ke rumahmu dulu?”

Tika menjawab dengan hati yang lega karena ternyata Nina tidak marah padanya, “Ya tentu aja boleh! Mau menginap juga nggak apa-apa. Hehehe....”

Akhirnya, mereka pulang bersama-sama dengan perasaan yang lebih ringan walaupun Nina belum menceritakan apa masalahnya. Di tengah perjalanan, mereka melihat seorang anak kecil yang menangis gara-gara bertengkar dengan kakaknya. Padahal hanya masalah sepele yaitu gara-gara berebut cokelat dan permen, anak itu menangis. Di sana, mereka menolong adik kecil itu. Saat ditanya ternyata anak itu adalah adik Farid, teman sekelas mereka. Karena iba, mereka membelikannya permen dan cokelat sumber masalah tersebut dan sekalian mereka membawa adik kecil pulang.

Sesampai di rumah adik kecil bernama Dika itu, mereka bertemu dengan Farid. Farid terkejut melihat kedatangan mereka dan adiknya. Di depan mereka Farid masih saja memarahi adiknya, “Ngapain kamu pulang, heh...?”.

Adik farid menangis lagi bahkan lebih keras. Untung saja rumah Farid besar dan orang tuanya belum pulang bekerja sehingga tidak ada yang menegur Farid. Para pembantunya pun terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Melihat hal itu, kedua sahabat itu tidak tinggal diam. Mereka menegur Farid, “Farid, kamu itu jahat banget sih! Adik sendiri kok dimarahin terus. Masih kecil lagi. Kasihan tau!”

”Biarin aja anak nyebelin ini nangis! Dia itu udah buat cokelat pemberian Risma jatuh dan kotor!” sahut Farid.

“Kamu kok lebih ngepentingin cokelat sih daripada adik sendiri? Mungkin adikmu nggak sengaja kali,” sahut mereka berdua tak mau kalah. Farid malah marah-marah pada Tika dan Nina,“Udahlah kalian berdua nggak usah ikut campur. Ini masalahku sama adikku. Kalian nggak pulang apa? Pasti kalian udah ditunggu kan di rumah? Kalian lebih baik pulang aja sana!”

“Kalau kami pulang, kamu mau kan janji ke kita kalau kamu akan berdamai dengan adikmu. Kasihan adikmu dia masih terlalu kecil untuk disakiti.”

“Ya! Ya!” sahut Farid dengan jengkel.

“Baiklah kami berdua pulang dulu. Ingat! Janji adalah hutang! Jadi harus dibayar. Omong-omong kamu nggak marah ke kita kan?”

“Ya! Ya,” sahut Farid dengan jengkel kembali. Akhirnya mereka berdua pulang ke rumah masing-masing.

Di tengah perjalanan, Nina berpikir sejenak, hal yang barusan terjadi mirip dengan apa yang dia alami –hal membuat dia menjadi murung-. Tapi masalahnya sedikit berbeda, yang ia alami adalah kebalikannya, malah ia yang marah ke kakaknya. Setelah mengalami kejadian tersebut, Nina menyadari bahwa yang ia lakukan adalah hal konyol. Lalu ia berkata pada Tika, “Tik, aku nggak jadi ke rumahmu dah! Hari dah siang nih. Aku pasti sudah ditunggu sama ibu dan kakakku untuk makan siang.”

“Trus gimana ceritamu?” protes Tika

Nina menjawab dengan polos, “Hehe...nggak ada. Aku cuman pingin jadi pendiem aja. Maafin aku ya, Tik! Aku udah buat kamu cemas. Aku nggak apa-apa kok! Bener! Kita masih sahabatan, ya!”

“Hah? Dasar anak! Kalau tahu kayak gitu mending aku yang marah. Hehehe...nggak kok! Cuma bercanda! Ya, udah! Aku juga mau pulang. Sampai jumpa besok! Daa...!”

“Daa...!”, sahut Nina sambil melambaikan tanggannya. Akhirnya kedua sahabat ini bersatu kembali.

Saturday, October 25, 2008

Nasi Goreng

0 Comment(s)
Rima dan Ramli tinggal bertiga dengan ibu mereka. Rima kini baru masuk SLTP. Dan Ramli naik ke kelas IV SD. Ibu mereka bekerja sebagai pencuci pakaian di beberapa rumah besar. Walaupun demikian, Rima dan Ramli tetap bercita-cita tinggi. Mereka selalu rajin belajar dan tidak putus asa.

Tahun ini, Rima sangat bangga, karena ia diterima di salah satu SLTP Negeri favorit. Rima harus menjalani MOS (Masa Orientasi Siswa) selama tiga hari pertama. Pada masa itu, ia bisa berkenalan dengan siswa lainnya. Juga dengan kakak kelas dan dengan program sekolahnya.

Pada hari kedua MOS, Kak Mimi, salah satu kakak OSIS memberi pengumuman,

"Adik-adik kelas satu, besok ada acara tukaran makanan. Jadi kalian semua harus bawa makanan sendiri-sendiri. Nantinya akan saling ditukarkan!"

"Kak, makanannya misalnya apa, Kak?" tanya salah seorang anak.

"Oh, ya! Harus nasi lengkap dengan lauk dan sayuran. Harganya minimal Rp 2000,00."

Setelah Kak Mimi pergi, Rima jadi bingung sendiri. Dia akan membawa nasi dan lauk apa? Di rumahnya tak ada lauk yang enak dan istimewa. Paling hanya tempe dan tahu. Di rumah, bisanya Rima menambahkan kecap di nasi putihnya. Itu sudah terasa nikmat sekali baginya. Tapi kalau Rima membawa menu seperti itu ke sekolah, ia takut diejek kawan-kawannya.

Setiba di rumah, Rima menceritakan tugasnya itu kepada Ibu.

"Rim, sekarang Ibu mau kerja dulu. Kamu saja yang memikirkan menu apa akan kamu bawa. Kalau bisa, yang murah-murah saja. Agar Ibu sanggup membelinya," kata Ibu.

Namun, sampai ibunya pulang kerja, Rima belum juga menemukan jalan keluarnya. Untungnya, pada saat sedang belajar malam, ia menemukan ide. Rima bergegas menemui ibunya.

"Bu, bagaimana kalau besok Rima bawa nasi goreng saja? Murah dan mudah kan Bu?" ujar Rima.

"Benar juga. Kalau begitu, besok pagi-pagi akan Ibu buatkan nasi goreng," kata Ibu sambil menguap. Rima iba melihat ibunya. Ibu Rima sebenarnya belum terlalu tua. Namun karena ia bekerja sangat keras. wajahnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya.

Paginya, Rima membantu ibunya memasak nasi goreng. Nasi goreng itu lalu dibungkus dengan daun pisang yang diambil dari kebunnya.

"Terima kasih, ya, Bu. Rima berangkat dulu, ya!" pamit Rima pada ibunya. Dengan gembira ia mengayuh sepeda tuanya menuju ke sekolah. Beberapa saat kemudian, Rima sudah berada di dalam kelas. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya tibalah acara yang dinanti-nanti Rima. Acara pertukaran makanan.

"Adik-adik kelas satu, sudah bawa makanan semua, kan?" tanya Kakak OSIS.

"Sudah, Kak!" jawab murid-murid kelas satu serentak.

Makanan yang dibawa murid-murid lalu dikumpul di meja guru. Rima mulai tegang.

Bagaimana jika makanannya jatuh pada temannya yang kaya? Apa dia mau memakan nasi gorengnya yang sederhana? Rima takut kalau-kalau teman-temannya mencemoh masakan itu.

Akhirnya saat pembagian makanan pun tiba. Rima mendapat makanan dari Rio. Sedangkan nasi goreng bungkusannya diterima Miranda. Rima tidak langsung membuka kotak bekal dari Rio. Ia melirik ke arah Miranda yang membuka bungkusan nasi gorengnya itu.

"Wow, nasi goreng! Aku suka sekali nasi goreng! Wah kelihatannya enak!" sorak Miranda. Rima melihat Miranda memakan sesendok nasi gorengnya.

"Wow, enak sekali! Punya siapa ini?" tanya Miranda.

"Itu punyaku," jawab Rima.

"Oh, kamu Rima, ya?"

"Iya," jawab Rima singkat.

"Rim, siapa yang memasak nasi goreng ini?" tanya Miranda.

"Ibuku, " sahut Rima sedikit lega.

"Kebetulan, lusa ulangtahunku. Aku sedang cari makanan katering. Apa ibumu mau menerima pesanan nasi goreng seperti ini?" tanya Miranda.

"Bisa! Tentu saja bisa! Nanti akan aku bicarakan dengan ibuku," sahut Rima senang.

Rosa dan Maya mendekati Miranda dan Rima. "Oh, ini ya, nasi gorengnya! Boleh kucoba?" kata Rosa sambil menyendok sedikit nasi goreng.

"Wah, enak sekali! Ibuku kan bekerja di kantor. Kebetulan Ibu sedang bingung mencari ketering untuk makan siang di kantornya! Ibuku pasti senang kalau bisa memesan nasi goreng seperti ini," kata Rosa.

"Oh, tentu saja bisa!" jawab Rima.

Kabar ini cepat menyebar. Sampai pada saat istirahat kedua, saat Rima sedang jalan di kantin, ibu penjual di kantin bertanya, "Kamu Rima, ya?" tanyanya.

"Iya. Ada apa, Bu?" tanya Rima heran.

"Begini, Ibu mau pesan nasi goreng buatan ibumu yang katanya enak itu. Mau Ibu jual di kantin ini. Kalau bisa, lusa ibu pesan lima puluh bungkus dulu. Kalau laris, nanti ibu akan pesan lebih banyak lagi!"

"Oh, ya? Baiklah, nanti saya tanyakan ke Ibu!" jawab Rima senang.

"Oh, ya untuk modalnya ini ada sedikit uang," ibu kantin menyodorkan sejumlah uang.

Sampai di rumah, Rima berlari-lari mendekati ibunya yang sedang memasak. Ia bercerita tentang pesana nasi goreng yang diterimanya tadi. "Oh, Ibu senang sekali!" Ibu memeluk Rima. Mereka sangat bersyukur untuk berkat Tuhan hari itu.
best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in best viewed in